Selasa, 31 Juli 2012

Apa Hebatnya Ideologi Kapitalis, Sosialis dan Pancasila?

Oke, untuk memenuhi tugas dari bapak Sukamto gue harus kerja keras nyari apa itu Ideologi, khususnya Ideologi Pancasila. di Internet banyak artikel-artikel seperti macam ini, tapi pokok permasalahannya bukan di materi, tapi GUE NGGAK SUKA BERPOLITIK (baca: Pelajaran Kewarganegaraan dan semacamnya)

searching sana sini akhirnya gue nemu Artikel tentang Ideologi yang menurut gue cocok. :D kurang lebih kayak gini lah :D Enjoy it!

Kita dapat berspekulasi bahwa Pancasila adalah ideologi yang bagus tapi sayangnya masih bersifat utofia trutama dalam penerapnnya dan mungkin masih merupan suatu mimpi dan cita-cita yang muluk-muluk tapi dalam kenyataannya dari dulu sampai sekarang masih sulit diwujudkan dan mungkin hampir sama dengan penerapan ideologi sosialis komunis yang pernah gagal. Namun, juga harus diakui bahwa di negara-negara makmur (welfare states) yang juga merupakan negara Demokrasi, rakyat memiliki akses menikmati jaminan sosial (Social Security) yang cukup baik.
Kemudian kita bisa mengakui bahwa saat ini sebagian masyarakat dunia pesimis dan berspekulasi mengatakan bawa System kapitalisme telah gagal menyusul terjadinya krisis Ekonomi di beberapa negara makamur (welfare states) di Eropa dan Amerika. Juga sejumlah kelompok Pendukung Sosialisme dan Anti Kapitalisme akhir-akhir ini sering menuduh bahwa System Kapitalisme telah menindas dan menjajah Ekonomi negara-nagara sedang berkembang (developing Countries) dan negara-ngara miskin (third world) walaupun pada kenyataanya negara-negara makmur Kapitalis sering membantu negara-negara tersebut melalui bantuan grant atau hibah seperti bantuan pendidikan, pembangunan ekonomi dan bantuan kemanusia secara sukarela atau melalui pinjaman lunak (Soft Loan) liwat kebijakan Bank Dunia, IMF dan lembaga-;Lembaga Internasional Lainnya yang bergerak di bidang pembangunan dan bantuan kemanusiaan.
Namun, kita juga harus mengakui bahwa sampai sekarang tentu sistem Sosialis Komunis  juga belum berhasil walaupun  popularitasnya secara perlahan-lahan bangkit kembali pasca runtuhnya negara kiblat Sosialis-Komunis, Uni Soviet. Mungkin kita juga bisa berspekulasi bahwa upaya  mensejahterahkan masyarakat masih bersifat Utopia dan apalagi menciptakan negara makmur.
Ingat Ekonomi China maju dan diklaim menjadi ekonomi terbesar ke dua di dunia saat ini tapi China memilki ideologi gabungan (blended ideology) karena Ideologi politik China Sosialis-Komunis tapi ideologi ekonomi digabung dan mulai berhaluan kapitalis (Kepalanya Sosialis tapi perutnya Kapitalis). Juga di beberapa negara yang diidentifikasi Sosialis Komunis yang nota bene negara dengan sistem totalitarian Otoriter dan selalu mengusung slogan mensejahterakan rakyat kenytaannya masih sulit tercipta karena kenyataannya yang sejatera hanyalah elit-elit politiknya sedangkan fakta juga membuktikan bahwa  di mana-mana tingkat kemiskinan sangat tinggi dan juga bnyak terjadi kasus kelaparan.
Telah terbukti sistem sosialis yang dulu pernah gagal belum mampu mensejahterakan rakyatnya apalagi mau menciptakan negara makmur. Kenyataannya cita-cita dan ideologi Sosialis Komunis  juga masih bersifat utopia yaitu suatu ideologi angan-angan dan cita-cita yang muluk-muluk tapi masih sangat sulit diwujudkan hampir sama seperti penerapan ideologi Pancasila di tanah air. Negara Sosialis Komunis dengan sistem pemerintahan totalirian dan sangat otoriter  mirip dengan pemerintahan Monarki Absolut sehingga kita bisa berspekulasi bahwa di negara-negara tersebut tentu tidak berjalan checks and balances dalam pemerintahan seperti di negara yang menganut Demokrasi. Azas keadilan dan kesamaan di depan hukum (Eaquality before the law) mungkin silit diwujudkan dengan karena kenyataannya pemerintahannya sangat absolut lihat Kasus Korea Utara (Sosialis Komunis) dan Bandingkan dengan saudaranya Korea Selatan (Demokratis-Kapitalis) yang jauh lebih maju dan sejahtera.
Namun, kita harus mengakui pula bahwa betul tiap-tiap ideologi Politik dan Ekonomi tentu memiliki kelebihan dan juga pasti ada kelemahannya. Di lain sisi, kita bisa melihat juga contoh kasus yang cukup baik di beberapa negara Eropa yang menerapkan Ideologi Sosialis-Demokratis. Kelihatan sistem Sosialis Demokrat ini cukup ideal karena merupakan jalan tengah dan seperti menggabungkan dua ideologi besar di dunia Sosialis dan Demokratis.
Di beberapa negara Teluk seperti Iran, Irak (Masa Rezim Sadam Husain) di Timur Tengah seperti Syria dan Afrika Utara Libya dan Tunisia yang rezimnya baru-baru ini telah jatuh oleh revolusi yang dikenal dengan Arab Awakening atau Arab Spring. Neagara-negara yang disebutkan di atas tersebut merupakan negara Sosialis Islamis tapi Iran merupakan negara Theocracy Islamis yang berhaluan Sosialis. Negara-negara ini memilki kedekatan emosional dengan negara-negara Sosialis-Komunis sperti Rusia, China, Korea Utara dan beberapa negara Sosialis di Amerika Latin (Amerika Tengah dan Selatan). Pasca runtuhnya Uni Soviet dan berakhirnya isu kekuatan negara-fakta Warsawa nampaknya kekuatan negara-negara Demokrasi barat telah diimbangi kekuatannya secara implisit oleh negara-negara sosialis dan sekutunya yang disebutkan di atas.
Selanjutnya dalam konteks lokal di Indonesia, kita dapat melihat penerapan Ideologi Pancasilaa bisa dispekulasikan bahwa penerapan ideologi Pancasila sejak Zaman Orde Baru dulu penerapannya masih bersifat indokrinitas mirip penerapan ideologi yang diusung oleh Almarhum Ghadafi yang dituangkan dalam Buku Hijaunya dan diajarkan di Seokolah sekolah di Libya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar